
Landing page sering digunakan untuk menjual produk, mendapatkan leads, mengumpulkan pendaftaran, mempromosikan webinar, menawarkan ebook, hingga mengarahkan calon pelanggan ke WhatsApp.
Namun memiliki landing page saja belum cukup.
Halaman yang terlihat modern dan penuh animasi belum tentu mampu membuat pengunjung melakukan tindakan.
Sebaliknya, landing page sederhana dapat bekerja dengan baik jika informasi di dalamnya tersusun jelas dan mampu menjawab pertanyaan utama calon pelanggan.
Apa yang ditawarkan?
Apa manfaatnya?
Apakah produk tersebut cocok untuk saya?
Mengapa saya harus percaya?
Apa yang harus saya lakukan selanjutnya?
Landing page yang efektif pada dasarnya membantu pengunjung mendapatkan jawaban tersebut tanpa harus berpikir terlalu lama.
Berikut 7 elemen landing page yang dapat membantu meningkatkan konversi.
1. Headline yang Langsung Menjelaskan Manfaat
Headline merupakan salah satu bagian pertama yang dilihat pengunjung ketika membuka landing page.
Karena itu, headline sebaiknya tidak hanya terdengar menarik tetapi juga memberikan gambaran yang jelas mengenai penawaran.
Hindari Headline yang Terlalu Umum
Bandingkan dua contoh berikut.
“Solusi Digital Masa Kini.”
dan:
“Buat Landing Page Produk Profesional Tanpa Harus Memulai dari Nol.”
Kalimat kedua lebih spesifik.
Pengunjung langsung mengetahui apa yang ditawarkan dan manfaat yang mungkin diperoleh.
Headline yang baik biasanya menjawab salah satu dari beberapa hal:
Apa yang akan didapatkan?
Masalah apa yang diselesaikan?
Hasil apa yang ingin dicapai?
Untuk siapa penawaran tersebut dibuat?
Anda tidak harus membuat headline yang panjang.
Yang paling penting adalah jelas sebelum kreatif.
Jika pengunjung harus membaca beberapa paragraf terlebih dahulu untuk memahami produk, bagian awal landing page perlu diperbaiki.
2. Value Proposition yang Mudah Dipahami
Setelah membaca headline, calon pelanggan perlu mengetahui mengapa penawaran tersebut menarik.
Di sinilah value proposition berperan.
Jelaskan Mengapa Produk Anda Layak Dipertimbangkan
Value proposition adalah alasan utama mengapa seseorang sebaiknya memilih produk atau layanan Anda.
Misalnya Anda menjual template landing page.
Jangan berhenti pada kalimat:
“Tersedia 20 template landing page.”
Jelaskan manfaat sebenarnya.
Misalnya:
“Pilih template siap edit untuk mempercepat pembuatan landing page tanpa harus mendesain layout dari awal.”
Jumlah template adalah fitur.
Menghemat waktu adalah manfaat.
Dalam landing page, manfaat biasanya lebih mudah menarik perhatian karena langsung berkaitan dengan kebutuhan pengguna.
Anda dapat menggunakan beberapa poin singkat untuk menjelaskannya:
- mudah digunakan;
- responsif di smartphone;
- dapat diedit;
- tidak perlu memulai desain dari nol;
- siap digunakan untuk berbagai kampanye.
Pengunjung kemudian dapat memahami nilai produk dengan lebih cepat.
3. Visual yang Mendukung Penawaran
Gambar pada landing page bukan hanya dekorasi.
Visual sebaiknya membantu pengunjung memahami produk.
Tampilkan Produk dalam Konteks Nyata
Jika menjual software, tampilkan interface aplikasi.
Jika menjual ebook, tampilkan cover atau preview halaman.
Jika menawarkan kelas, tampilkan gambaran materi atau proses pembelajaran.
Jika menawarkan jasa desain, tampilkan hasil pekerjaan.
Untuk produk digital, mockup dapat membantu calon pembeli membayangkan seperti apa produk yang akan mereka dapatkan.
Video singkat juga dapat digunakan ketika produk membutuhkan demonstrasi.
Namun jangan memenuhi landing page dengan terlalu banyak gambar hanya karena ingin membuat halaman terlihat ramai.
Visual yang tidak mendukung pesan justru dapat mengalihkan perhatian.
Gunakan gambar yang membantu menjawab pertanyaan:
“Sebenarnya saya akan mendapatkan apa?”
4. Penjelasan Manfaat dan Fitur yang Terstruktur
Setelah pengunjung tertarik pada bagian awal, mereka biasanya mulai mencari informasi yang lebih detail.
Di sinilah manfaat dan fitur perlu dijelaskan.
Bedakan Fitur dengan Manfaat
Fitur menjelaskan apa yang dimiliki produk.
Manfaat menjelaskan bagaimana fitur tersebut membantu pengguna.
Contohnya:
Fitur: landing page responsif.
Manfaat: halaman tetap nyaman dibuka dari smartphone, tablet, dan desktop.
Contoh lainnya:
Fitur: tersedia template siap edit.
Manfaat: pengguna tidak perlu membuat struktur halaman dari awal.
Keduanya penting.
Namun jika landing page hanya berisi daftar fitur teknis, sebagian calon pelanggan mungkin tidak memahami mengapa fitur tersebut penting.
Gunakan struktur sederhana:
Fitur → manfaat → hasil yang diharapkan.
Dengan cara ini, penawaran terasa lebih relevan dengan kebutuhan calon pelanggan.
5. Social Proof untuk Membangun Kepercayaan
Salah satu pertanyaan yang sering muncul sebelum seseorang membeli adalah:
“Apakah produk ini benar-benar bisa dipercaya?”
Social proof membantu menjawab keraguan tersebut.
Gunakan Bukti yang Nyata dan Relevan
Social proof dapat berupa:
testimoni pelanggan,
rating,
jumlah pengguna,
studi kasus,
portfolio,
hasil pekerjaan,
atau review.
Misalnya Anda menjual template website.
Testimoni:
“Bagus sekali.”
masih terlalu umum.
Testimoni seperti:
“Saya bisa menyiapkan landing page produk dalam satu hari tanpa harus membuat desain dari awal.”
memberikan konteks yang lebih kuat.
Jika belum memiliki banyak pelanggan, jangan membuat testimoni palsu hanya agar landing page terlihat meyakinkan.
Anda dapat menggunakan bentuk bukti lain.
Misalnya menampilkan demo produk, hasil penggunaan, preview fitur, atau proses kerja secara transparan.
Kepercayaan dibangun melalui bukti, bukan sekadar klaim.
6. Call-to-Action yang Jelas
Landing page harus mempunyai tujuan.
Tujuannya bisa berbeda-beda.
Membeli produk.
Menghubungi WhatsApp.
Mendaftar.
Mengunduh ebook.
Memesan demo.
Atau mencoba layanan.
Call-to-action atau CTA membantu menunjukkan tindakan tersebut.
Gunakan CTA yang Menjelaskan Langkah Berikutnya
Tombol seperti:
Kirim
atau:
Klik Di Sini
memang dapat digunakan, tetapi kurang memberikan konteks.
Bandingkan dengan:
Mulai Sekarang
Download Ebook
Lihat Demo
Pesan Melalui WhatsApp
Dapatkan Akses
atau:
Daftar Kelas
Pengunjung langsung mengetahui apa yang akan terjadi ketika tombol diklik.
CTA juga harus mudah ditemukan.
Anda dapat menempatkannya pada bagian hero, kemudian mengulang CTA pada bagian lain setelah pengguna mendapatkan informasi yang cukup.
Namun hindari terlalu banyak CTA dengan tujuan berbeda.
Jika satu tombol mengarah ke WhatsApp, satu ke Instagram, satu ke katalog, satu ke artikel, dan satu lagi ke halaman lain, perhatian pengunjung dapat terpecah.
Landing page umumnya bekerja lebih baik ketika memiliki satu tujuan utama.
7. Form atau Proses Konversi yang Sederhana
Bayangkan pengunjung sudah tertarik.
Ia sudah membaca penawaran.
Sudah percaya.
Sudah menekan tombol.
Tetapi kemudian muncul formulir dengan 15 kolom yang harus diisi.
Setiap langkah tambahan menciptakan potensi hambatan.
Minta Informasi yang Benar-Benar Dibutuhkan
Jika tujuan landing page hanya mengirimkan ebook gratis, mungkin Anda hanya membutuhkan:
nama,
dan email.
Jika calon pelanggan akan dihubungi melalui WhatsApp, Anda mungkin membutuhkan:
nama,
nomor WhatsApp,
dan kebutuhan singkat.
Jangan meminta informasi hanya karena form menyediakan kolom tersebut.
Semakin besar komitmen yang diminta, semakin jelas pula alasan mengapa data tersebut diperlukan.
Hal yang sama berlaku pada checkout.
Jika proses membeli terlalu membingungkan, calon pelanggan dapat berhenti sebelum transaksi selesai.
Buat alur sesederhana mungkin:
tertarik → klik CTA → isi informasi penting → selesai.
Landing Page Juga Harus Cepat dan Nyaman di Mobile
Tujuh elemen sebelumnya tidak akan bekerja maksimal jika halaman sulit digunakan.
Periksa Pengalaman Pengguna Sebelum Dipublikasikan
Pastikan landing page:
cepat dibuka,
responsif,
teks mudah dibaca,
tombol mudah disentuh,
gambar tidak terlalu besar,
dan form dapat digunakan melalui smartphone.
Jangan hanya mengecek halaman menggunakan laptop.
Coba langsung melalui ponsel.
Scroll dari atas sampai bawah.
Klik setiap CTA.
Isi formulir.
Coba proses pembelian.
Perhatikan apakah ada bagian yang terasa membingungkan.
Pengujian sederhana seperti ini sering menemukan masalah yang tidak terlihat ketika halaman dibuat.
Jangan Membuat Landing Page Terlalu Ramai
Salah satu kesalahan umum adalah memasukkan semua informasi yang dimiliki ke dalam satu halaman.
Hasilnya justru dapat membuat pengunjung kehilangan fokus.
Setiap Section Harus Memiliki Fungsi
Sebelum menambahkan section, tanyakan:
“Apakah bagian ini membantu calon pelanggan mengambil keputusan?”
Jika tidak, pertimbangkan untuk menghapusnya.
Struktur landing page sederhana dapat berupa:
Hero.
Masalah.
Solusi.
Manfaat.
Cara kerja.
Preview produk.
Social proof.
FAQ.
CTA.
Tidak semua landing page harus memiliki struktur yang sama.
Namun setiap bagian idealnya membawa pengunjung lebih dekat menuju tindakan utama.
Testing Tetap Diperlukan
Tidak ada satu desain landing page yang otomatis cocok untuk semua produk.
Target market berbeda.
Harga berbeda.
Sumber trafik berbeda.
Penawaran juga berbeda.
Gunakan Data untuk Melakukan Perbaikan
Anda dapat mencoba beberapa perubahan seperti:
headline,
gambar utama,
teks CTA,
urutan section,
penawaran,
form,
atau harga.
Ubah satu bagian, kemudian lihat hasilnya.
Dengan cara tersebut, keputusan tidak hanya didasarkan pada:
“Menurut saya desain ini lebih bagus.”
Tetapi mulai berdasarkan perilaku pengguna.
Untuk eksperimen, landing page juga dapat ditempatkan terlebih dahulu pada subdomain testing sebelum digunakan sebagai halaman utama kampanye.
Jika belum mempunyai domain sendiri, proyek sederhana juga dapat dipublikasikan menggunakan subdomain seperti:
namapromo.bukulive.id
atau nama lain yang tersedia di BukuLive.id.
Cara tersebut dapat digunakan untuk mencoba landing page, membagikan URL kepada pengguna awal, dan melakukan evaluasi sebelum proyek dikembangkan lebih lanjut.
Kesimpulan
Landing page yang membantu meningkatkan konversi tidak harus memiliki desain yang sangat rumit.
Yang lebih penting adalah setiap elemen mempunyai fungsi yang jelas.
Fokus pada Kejelasan, Kepercayaan, dan Tindakan
Tujuh elemen utama yang perlu diperhatikan adalah:
1. Headline yang menjelaskan manfaat.
2. Value proposition yang mudah dipahami.
3. Visual yang mendukung penawaran.
4. Manfaat dan fitur yang terstruktur.
5. Social proof untuk membangun kepercayaan.
6. Call-to-action yang jelas.
7. Form atau proses konversi yang sederhana.
Setelah itu, pastikan halaman cepat, nyaman digunakan di smartphone, dan tidak dipenuhi elemen yang mengalihkan perhatian.
Landing page pada akhirnya bukan sekadar halaman yang terlihat menarik.
Landing page adalah alur komunikasi yang membawa seseorang dari belum mengenal penawaran, mulai tertarik, mendapatkan informasi, membangun kepercayaan, hingga mengambil tindakan.
Mulailah dari struktur sederhana.
Publikasikan.
Lakukan testing.
Perhatikan respons pengguna.
Kemudian perbaiki secara bertahap.
Karena landing page yang baik bukan hanya halaman yang selesai dibuat, tetapi halaman yang terus dikembangkan berdasarkan kebutuhan pengguna dan tujuan kampanye.
Baca juga:
